Makalah Home Industri ( Bisnis Keluarga )

PENDAHULUAN
            Bisnis keluarga mempunyai karakteristik dengan kepemilikannya atau keterlibatan lainnya dari dua orang atau lebih anggota keluarga yang sama dalam kehidupan dan fungsi bisnisnya. Lingkup dan luas keterlibatan tersebut bervariasi dalambeberapa perusahaan. Dalam sebuah restoran kecil, misalnya seorang istri/suami dapat bekerja sebagai seorang pemilik dan manajer, sementara yang lain memegang pembukuan dan anak-anak dapat bekerja di dapur atau sebagai pelayan.
 
PENGERTIAAN

A.    Bisnis Keluarga (Home Industri)
Sebuah perusahaan yang dimiliki, dikontrol, dan dijalankan oleh anggota sebuah atau beberapa keluarga. Meskipun demikian, bukan berarti bahwa semua pekerja dalam perusahaan harus merupakan anggota keluarga. Banyak perusahaan keluarga, terutama perusahaan-perusahaan kecil, memperkerjakan orang lain untuk menempati posisi rendahan, sementara posisi tinggi (top manager) dipegang oleh orang dari dalam keluarga pemilik perusahaan.

Keterkaitan keluarga dan bisnis.
            Banyak bisnis keluarga disusun atas dasar keluarga dan binsis, meskipun keluarga dan bisnis adalah institusi yang terpisah baik anggota, tujuan dan nilainya masing-masing. Mereka menjadi satu di dalam perusahaan di dalam perusahaan keluarga. Bagi kebanyakan orang, dua institusi yang saling terkait ini adalah bagian yang paling penting dalam hidup mereka. Keluarga dan bisnis muncul dengan alasan mendasar yang berbeda. Fungsi pokok keluarga berhubungan dengan perhatian dan pendidikan anggota keluarga, sedangkan bisnis berkaitan dengan produksi dan pendistribusian barang dan jasa. Tujuan keluarga adalah pengembangan penuh yang mungkin dilakukan tiap anggota keluarga yang berkaitan dengan keterbatasan kemampuan yang dimilikinya, serta pembagian kesempatan dan penghargaan yang sama untuk tiap anggota. Tujuan bisnis adalah keuntungan dan ketahanan hidup.

            Tiap pribadi yang terlibat, langsung atau tidak langsung, dalam perusahaan keluarga memiliki kepentingan dan pandangan yang berbeda dengan situasi yang ada. Model keterkaitan antara kepemilikan, keluarga dan bisnis dapat menjadi tumpang tindih satu sama lainnya. Seorang anggota keluarga yang bekerja di perusahaan ,tetapi tidak mempunyai  hak dalam kepemilikan perusahaan, memilih pekerjaan dan kesempatan berkembang yang lebih banyak bagi keluarga daripada anggota keluarga yang memiliki bagian bisnis tapi bekerja di tempat lain. Kepentingan yang berbeda dapat menciptakan ketegangan dan menyebabkan konflik hubungan di antara anggota keluarga dalam bisnis  bersifat lebih sensitif daripada hubungan antara para karyawan yang tidak memiliki hubungan sama sekali.


Strategi Memilih dan Memulai Usaha Keluarga
Salah satu hal yang paling sulit di dunia ini adalah memilih, tentunya bukan memilih untuk urusan percintaan atau urusan jodoh. Memilih dalam konteks tulisan ini adalah memilih usaha yang paling tepat untuk keluarga. Usaha keluarga relatif melibatkan lebih dari diri calon pengusaha itu sendiri namun melibatkan pasangan dan anak. Tentu pilihan ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi seluruh anggota keluarga.

5 faktor yang harus di perhatikan dalam memilih dan memulai usaha keluarga, yaitu antara lain :
   1. Tujuan usaha keluarga : Jika usaha keluarga ini merupakan hanya salah satu sumber income keluarga maka usaha keluarga yang dipilih berupa usaha yang memiliki timing rendah atau usaha-usaha yang memiliki tempo-tempo tertentu, seperti usaha pertanian, usaha online ataupun usaha berupa investasi pada saham, reksadana maupun produk bursa lainnya. Namun jika usaha direncanakan menjadi tulang punggung perekonomian keluarga maka usaha yang dipilih lebih luas, selain usaha seperti tersebut diatas, namun usaha juga dapat berupa usaha rutin seperti perdagangan maupun manufacture.
   2. Man behind the gun : “orang yang menggerakkan usaha” hal ini penting mengingat kunci sukses sebuah usaha adalah pada unsur pengelolaan, artinya faktor manusia yang menggerakkan usaha. Apakah usaha keluarga yang akan dipilih akan di kelola oleh salah satu pasangan atau di kelola oleh kedua pasangan. tentunya pengelolaan oleh dua orang memudahkan pilihan.
   3. Keahlian : usaha dapat berjalan dengan baik jika di sokong oleh keahlian dalam bidang

usaha yang akan digeluti. Keahlian tidak berarti harus menguasai seluruh pekerjaan dalam usaha, namun keahlian berarti mengerti seluruh proses usaha itu berjalan dari mulai produksi, inventori, pemasaran, dan laporan. Keahlian ini lah yang membatasi seseorang dalam memilih. Menyesuaikan dengan keahlian yang dimiliki akan mempercepat usaha keluarga akan bergerak. Hindarilah usaha yang anda benar-benar tidak mengerti, atau baru saja mengerti, gali lebih banyak informasi mengenai usaha anda.

   4. Pesaing : bukan berarti melemahkan startegi melihat tingkat persaingan dapat membantu dalam proses memilih. Hindari usaha-usaha yang mudah di masuki pesaing seperti usaha warnet, cuci steam, warung kelontong kecuali anda benar-benar mengerti seluk-beluk usaha tersebut dan memiliki nilai tambah yang sulit diikuti oleh pesaing.
   5. Modal : walau bukan sesuatu yang penting dalam memulai usaha namun aspek modal harus di perhatikan. Karena pilihan mengenai jenis usaha tertentu akan berdampak pada besarnya dana keluarga yang harus dikeluarkan untuk memulai usaha tersebut.

Dengan memperhatikan kelima aspek tersebut diharapkan usaha bukan suatu ajang uji coba yang mungkin dapat menghamburkan uang keluarga, namun menjadi sumber penghasilan baru bagi keluarga.
 
B.   Model Kepemimpinan Perusahaan Keluarga

Salah satu karakteristik yang melekat dalam perusahaan keluarga adalah keinginan agar kepemimpinan perusahaan dipegang oleh anggota keluarga. Karakter ini secara umum bertumpu pada peran keluarga dalam sebuah perusahaan keluarga, yakni memanfaatkan dan mengawasi sumber-sumber daya yang tersedia, menentukan tingkat spesialisasi dan integritas, memfasilitasi komunikasi dan koordinasi, serta mengatur kewenangan dan kepercayaan, termasuk menentukan siapa pemegang tampuk pimpinan perusahaan.

Struktur Kepemimpinan

Pertama adalah struktur kepemimpinan. Struktur kepemimpinan yang baik mendorong terciptanya peran dan tanggung jawab yang lebih jelas, baik bagi pemimpin perusahaan, anggota keluarga, maupun karyawan nonkeluarga. Struktur kepemimpinan menjelaskan secara terperinci hak, tanggung jawab, dan proses kepemimpinan dalam perusahaan keluarga.

Perusahaan keluarga memerlukan model kepemimpinan yang mampu menghadirkan stabilitas, keberlanjutan, dan perubahan sekaligus. Harus diakui perubahan adalah masalah sulit bagi perusahaan keluarga.

Untuk mengatasinya, perusahaan keluarga dapat membangun konsensus tentang pentingnya membangun dan mendukung kepemimpinan; menetapkan hak, tanggung jawab, dan proses kepemimpinan; memanajemeni proses tata kelola bagi pengambilan keputusan yang efektif dan penyelesaian perselisihan secara adil; membangun rencana suksesi kepemimpinan; mengimplementasikan perencanaan secara strategis; membangun proses guna memberikan edukasi tentang pentingnya peninggalan (legacy), membangun proses guna mengukur
keberhasilan kepemimpinan.



Berbagi Kepemimpinan

Model kepemimpinan berikutnya adalah berbagi kepemimpinan. Seiring dengan tumbuh kembangnya perusahaan, kepemimpinan tidak mungkin lagi bergantung hanya kepada satu figure seperti pada masa-masa awal berdirinyaperusahaan keluarga.

Kepemimpinan yang lebih bersifat kolektif akan membantu anggota keluarga mengatasi kejenuhan, terlibat lebih dalam, dan mempercepat proses pengambilan keputusan.

Berdasarkan hasil penelitian yang pernah dilakukan oleh The Jakarta Consulting Group, konsep kebersamaan salam keluarga tetap dipegang oleh sebagian besar perusahaan keluarga (78%) dalam pengambilan keputusan dan kebijakan strategis.

Kebersamaan ini ditunjukkan oleh mekanisme keputusan kolektif dalam pengambilan kebijakan strategis oleh anggota keluarga yang duduk dalam kepemimpinan perusahaan.

Akomodasi Kelompok Informal

Perusahaan keluarga yang sukses umumnya memiliki model kepemimpinan yang mengakui dan menghargai setiap pendekatan, serta berusaha mengakomodasi kelompok-kelompok informal melalui pemahaman dan pelibatan yang lebih luas. Kelompok informal adalah kelompok yang tidak memiliki jabatan dalam perusahaan keluarga.

Perselisihan atau konflik jamak terjadi dalam perusahaan keluarga, terutama di antara sesama anggota keluarga. Oleh karena itu, pemimpin perusahaan keluarga hendaknya mengembangkan mekanisme penyelesaian perselisihan guna menghindari makin membesarnya konflik yang mengancam keharmonisan keluarga dan keberlangsungan hidup perusahaan. Ingatlah banyak perusahaan keluarga yang runtuh akibat berlarut-larutnya konflik.

Suksesi dan Pemahaman

Salah satu tanggung jawab pemimpin perusahaan keluarga adalah memahami kekuatan dan kelemahan diri, keluarga, dan orang-orang yang bekerja dengannya. Berdasarkan pemahaman inilah pemimpin perusahaan keluarga dapat menempatkan anggota keluarga dan professional nonkeluarga pada posisi dan tugas yang tepat. Yang tak kalah penting adalah proses perekrutan, seleksi, kebijakan kompensasi, dan penilaian kerja yang adil guna menghindari perasaan cemburu dan benci di antara anggota keluarga dalam perusahaan.

Demi keberlanjutan bisnis pada masa depan, perencanaan suksesi yang baik wajib menjadi bagian dari model kepemimpinan perusahaan keluarga termasuk menentukan calon-calon yang berpotensi menjadi pemimpin masa depan untuk kemudian mempersiapkan mereka sejak dini.

Perencanaan suksesi ini sebaiknya juga dikaji ulang secara berkala mengingat perubahanperubahan yang mungkin terjadi dalam lingkungan keluarga dan perusahaan.


Profesionalitas dalam Bisnis Keluarga

Bisnis keluarga merupakan bisnis yang rentan terjadinya hal-hal yang tidak profesional dalam kepengurusan dan tata kelolanya. Hal ini tidak dapat dihindari karena adanya hubungan keluarga akan menyebabkan seseorang menjadi sungkan atau pekeweuh atau tidak enak hati dalam menyikapi setiap bentuk "penyelewengan" yang mungkin terjadi.

Sementara, potensi penyelewengan dalam bisnis keluarga sangat besar, mengingat tipikal kekeluargaan justru membuat orang "lebih berani" menunjukkan sifat pribadi mereka yang mungkin bukan sikap yang dibutuhkan perusahaan. "Sense of belonging" yang tinggi justru akan menyebabkan perasaan "tinggi hati" muncul mengalahkan profesionalitas.

Hubungan kekerabatan membuat celah pada pribadi untuk merasa "santai" dengan apa yang dipunyai. Dalam sudut pandang ini, bisnis keluarga, di mana kepengurusan dan karyawan dijalankan oleh lingkup keluarga merupakan bisnis dengan hubungan kerja dengan potensi konflik yang tinggi, karena subjektivitas yang juga tinggi, yang perlu disikapi dengan baik.
C.    Tips Memulai Usaha Bisnis

            Memulai sebuah usaha, entah itu besar atau kecil memang gampang-gampang susah. Apalagi bagi kita yang belum pernah atau belum berpengalaman dalam bisnis. Sehingga tidak jarang ada yang tidak jadi memulai usaha gara-gara terlalu banyak berpikir ini itu, 10 cara mudah mulai usaha.

1. Hobi, adalah cara paling mudah, enjoy dan anda lebih paham dengan bidang yang ditekuni. Contoh: bisnis bunga, bengkel, dan catering.

2. Terdesak kebutuhan, seperti PHK, menganggur, bisnis lesu atau orang tua meninggal, sehingga terpaksa jualan pakaian, kue, koran, dll. Ini adalah cara yang sulit, tetapi dengan kerja keras, sukses adalah mungkin.

3. Diajak teman, keluarga atau kolega untuk ikut MLM. Dengan modal relatif kecil dan sistem network yang baik, anda berpeluang untuk sukses.

4. Inspirasi dari koran, TV, internet, obrolan teman kantor, rumpi-rumpi tetangga atau lagi jalan-jalan sore. Begitu anda melihat “WOW”, langsung anda sulit tidur untuk segera mewujudkan mimpi bisnis anda.

5. Melanjutkan usaha keluarga, sehingga pada akhirnya dengan “tangan dingin” anda bisnis jadi lebih berkembang.

6. Mengisi waktu luang, seperti pensiunan, penulis, dll, lalu membuka toko kelontong, counter voucher HP, refil aqua, dan usaha konsultan.

7. Lihat peluang di tempat kerja, usaha teman, masalah yang berbau bisnis di sekitar rumah anda, seperti usaha laundry, rental PS, cleaning service, dll.

8. Memanfaatkan ilmu dan skill anda, seperti usaha penerjemahan, konsultan properti,toko/service komputer dan bimbingan belajar.

9. Ikut coaching, diklat, training, dan lokakarya, seperti sablon, elektronika dan salon.

10. Tiru bisnis di tempat kerja, lalu buka usaha serupa.

Apa Resepnya Sehingga bisa Berhasil dengan Upaya Home Industri ?

Ketekunan dan Motivasi untuk bisa berhasil. Yang lebih penting, walaupun tidak sekolah tinggi mau belajar. Belajar tidak harus ditempuh dengan sekolah. Kita bisa belajar dari pengalaman sendiri, dari buku, dan dari pengalaman orang lain (baik keberhasilan maupun kegagalannya). Satu lagi, kita mau memulai usaha dari kecil lebih dulu, sebelum lama-lama usaha itu menjadi besar.

Text Box: Percayalah, kita punya kesempatan yang sama dengan mereka yang sudah berhasil untuk bisa berhasil, walaupun kita tidak memiliki pendidikan tinggi sekalipun.



Kunci sukses bisnis keluarga yang berkesinambungan terletak pada regenerasi dan suksesi kepemimpinan yang terencana dengan matang.

KESIMPULAN

Bisnis keluarga (home industri) Merupakan kerja baru yang luar biasa pada bisnis keluarga, menunjukkan bagaimana untuk menjaga hubungan yang seimbang antara keluarga dan perusahaan, dan menjamin hasil bisnis yang memuaskan. Roadmap ini membantu pembaca untuk membangun lebih baik dikelola dan perusahaan keluarga lebih stabil.

PENUTUP

Demikian yang dapat kami paparkan mengenai Bisnis keluarga (home industri) yang menjadi pokok bahasan dalam makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya, kerena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang ada hubungannya dengan judul makalah ini.

Penulis banyak berharap para pembaca yang budiman Bisa memberikan kritik dan saran yang membangun kepada penulis demi sempurnanya makalah ini dan dan penulisan makalah di kesempatan – kesempatan berikutnya.
Semoga makalah ini berguna bagi penulis pada khususnya juga para pembaca yang budiman pada umumnya.

REFERENSI

http://jurutulis.com/hm-sampoerna-contoh-sempurna-usaha-rumahan.html

http://www.lkdi.org/cms/id/2011/04/14/model-kepemimpinan-perusahaan-keluarga/

http://lily-kasim.blogspot.com/2011/06/profesionalitas-dalam-bisnis-keluarga.html



0 comments:

Poskan Komentar

silahkan tinggalkan komentar anda :